Dan Para Seniman Miskin Termenung di Sudut Jaman

1 Comment

sebuah catatan kecil tentang kegelisahan para “seniman”

Ketika kamera obscura – yang menjadi cikal bakal kamera megapiksel – pertama kali diciptakan dan hasilnya dipublikasikan, kalangan pelukis geram karena menganggap semua orang dapat melukis mendekati aslinya tanpa perlu memiliki keahlian melukis seperti mereka.

Ketika fotografi sudah diterima sebagai karya seni, lagi-lagi muncul kontroversi yang menggelikan: fotografer “tua” dan fanatik mencak-mencak melihat perangkat lunak Photoshop yang membuat sebuah foto yang dihasilkan dengan cara yang jauh dari “professional”, menjadi “sangat professional”.

Di dalam kuburnya, Gerardus Mercator mungkin akan curhat pada malaikat penjaga kubur, melihat para kartografer saat ini yang dimanjakan oleh komputer begitu sembarangan dalam menentukan simbol-simbol peta dan dan cukup malas mengatur tata letaknya; berharap semuanya dilakukan otomatis oleh komputer.

Beberapa tahun yang lalu ada sekelompok seniman yang menggelar pameran dengan maksud memberikan perlawanan terhadap karya seni yang dibuat dengan “cukup meng-klik tetikus saja”.

Roy Suryo menganggap Blog sebagai “sampah” web, karena semua orang menjadi punya media untuk mempublikasikan dirinya sendiri tanpa melewati serangkaian proses editing yang cukup ketat sebagimana “media sesungguhnya”.

Entah apa perasaan para aktor-aktris anggota sanggar-sanggar seni terkemuka menyaksikan wajah-wajah kenes yang hanya bisa membentak, melotot, menampar, dan menangis (inipun dengan bantuan obat tetes mata) yang mondar mandir di layar kaca setiap hari dalam sebuah “karya seni” yang disebut Sinema Elektronik dengan honor puluhan juta rupiah dari orang semisal Tiada Rotan Ram Punjabi, sementara mereka sendiri harus mencari uang untuk membiayai pementasan teaternya dan bukannya dibayar.

David Bayu Danangjaya mencaci maki Kangen Band dan menyatakan “Tega bener. Mau dikemanain musik Indonesia. ‘Kangen Band’ please deh jangan band-band kayak gitu lagi yang dikeluarin..“. Karena dianggap merusak musik Indonesia, yang nyata-nyata Kangen Band laris manis di pasaran.

Inilah revolusi teknologi (dan tentunya dengan sentuhan pemasaran) yang mau tak mau mempengaruhi dunia seni. Setiap orang bisa menjadi sastrawan dengan menulis puisi di blog tanpa kesulitan mempublikasikannya dan – tidak seperti sepuluh tahun yang lalu – harus diseleksi oleh sastrawan kawakan untuk sekedar dimuat di surat kabar. Setiap orang bisa menjadi wartawan dengan melakukan hal yang sama dengan blog tanpa perlu kaidah-kaidah jurnalistik. Setiap orang bisa menjadi pelukis dengan menggunakan Corel Draw atau Photoshop, yang bahkan mungkin Andy Warhol pun akan dibuat ternganga melihat perkembangan kuantitatifnya. Setiap orang bisa menjadi sutradara dan aktor dengan hanya menggunakan kamera video ponsel dan mempublikasikannya di Youtube. Kenyataan bahwa banyak band bermunculan dengan kemampuan bermusik seadanya – dan masih keliru membedakan antara kunci dan kord – tak lepas dari peran teknologi yang mampu memproduksi alat musik secara masal dan menjualnya dengan harga murah, lebih menyakitkan (telinga) lagi mengkolaborasikannya dengan alat-alat musik tradisional secara serampangan sudah membuat mereka merasa menjadi “musisi kontemporer”.

Akhir kata, setiap orang bisa penjadi fotografer dengan mampu membeli kamera-kamera terkini dan segala kecanggihan yang ditawarkannya, dan memajang foto profil mereka yang sedang menenteng atau seolah-olah membidikkan kamera dengan lensa sepanjang dan sebesar termos milik nenek saya di Facebook………. dan para “seniman miskin” hanya akan termenung di sudut jaman.

NB: jangankan melakukan editing bombastis pada hasil fotonya, Surip (masih gantinya Sukab) masih saja mondar mandir ke toko kamera untuk kamera sekali pakainya (maksudnya, sekali dipakai langsung direparasi).

Sedekah Adalah Solusinya?

Leave a comment

Satu waktu ketika menyaksikan berita di televisi mengenai kekisruhan yang terjadi pada saat pembagian daging kurban, seorang bapak yang ikut menonton berkata kepadaku: jadilah orang kaya, masih banyak orang yang membutuhkan sedekah.

Sesederhana itukah solusinya? Ini bukan kali pertama kita menyaksiakan peristiwa mengenaskan – kalau tidak menyedihkan – semacam itu; pembagian angpau lebaran dari seorang dermawan setempat yang isi amplopnya 20 ribu rupiah, pembagian zakat fitrah, bahkan tidak lama sebelum pembagian daging kurban adalah penjualan telepon seluler seharga seratus ribu rupiah. Kekisruhan ini tidak hanya mengakibatkan korban luka-luka bahkan sampai mengakibatkan beberapa nyawa melayang.

Apa yang kita saksikan adalah: ratusan orang bahkan mungkin mencapai seribu lebih berkumpul di suatu tempat dan dalam susana chaotic berebut apa yang dibagikan, tidak peduli pada orang-orang di sekelilingnya – yang juga ikut berebut, mendorong orang di depannya, menyikut orang di sampingnya, bahkan menginjak orang yang ada di bawahnya yang dengan sangat malangnya terjatuh. Tidak ada kepedulian di situ, yang penting si aku kebagian sedekah. Apa yang mereka lakukan terhadap di sekelilingnya memang tidak diniatkan untuk menyakiti atau berbuat jahat kepada orang lain, tetapi lebih karena dorongan untuk mendapatkan apa yang ingin mereka dapatkan.

Silahkan nilai aku tidak adil, tidak cukup empatik terhadap nasib mereka. Kalau kamu berada pada posisi dan kondisi mereka, kamu pun akan melakukan hal yang sama. Uang 20 ribu rupiah bagi mereka sangat berharga, sekantung kresek daging yang datang setahun sekali adalah lauk yang jarang mereka nikmati, telepon genggam seharga seratus ribu rupiah adalah kemewahan yang jarang bisa mereka peroleh, dan kamu sudah mendapatkan semuanya, jadi mudah saja menilai. Silahkan, ini akan menjadi perdebatan panjang lainnya.

Tapi benarkah hal itu hanya terjadi pada mereka yang “miskin”? Baik kita lihat: para pejabat korup, para pengusaha dengan deposito milyaran, politisi, bahkan sampai pegawai kelas menengah pun melakukan hal yang kira-kira senada dengan mereka yang mengantri sekantong kresek daging kurban. Apapun akan mereka lakukan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan: memanipulasi hukum untuk mendapatkan uang trilyunan rupiah, menyuap pemberi tender agar mendapatkan proyek, melakukan kampanye tidak bermoral untuk menyingkirkan lawan politik, atau sekedar menjilat atasan dan mengkhianati rekan kerja untuk memperoleh posisi yang lebih tinggi di kantor tidak jauh berbeda bahkan lebih buruk dari mendorong, menyikut, dan menginjak orang-orang di sekelilingnya. Dan semuanya dilakukan untuk mendapatkan apa yang ingin mereka dapatkan.

Jadi, masihkah sedekah adalah solusinya?

NB: setelah mendengar ceramah pak ustadz, Surip (gantinya Sukab) mau menyedekahkan semua tabungannya agar dapat ganti sepuluh kali lipatnya.

Everyday I Love You, but We Promise, No Boybands

2 Comments

Inget jaman dulu waktu masih esempe-esema, waktu masih seneng-senengnya nonton MTV, ada satu program yang bertitel Alternative Nation yang punya slogan “We Promise, No Boybands”. Mereka yang tergabung dalam bangsa alternatif ini tentunya merasa jijik dengan yang namanya boyband yang mereka anggap banci, kenes, genit, dan kadang cengeng. Tentu diri ini mengamininya.

Hingga satu hari, seorang penyiar radio sebelum memutarkan “Everyday I Love you” dari Boyzone berkomentar “lagu ini menyentuh banget, ga usah deh sok-sokan anti boyband, coba dengerin aja” diiringi tawa renyah. Tentu diri ini – sang pemuja Kurt Cobain – tersentil, jadi dengan malu-malu kudengarkan pula lagu ini; memang enak.

Apa yang kusadari di sini adalah; kita terlalu sibuk melabeli diri sebagai ini dan itu, menyaring apa yang kita konsumsi karena kita adalah ini dan itu. Bahkan bila apa yang kita tolak terlanjur tertonton, terdengar hati berusaha menampik dan mulut berucap mencaci. Atau sebaliknya, karena kita adalah ini dan itu, maka kita harus mendengar ini, menonton itu, meminum ini, memakan itu.

Karena kita adalah kaum tepelajar musiknya harus musik klasik atau jazz, sebab musik melayu adalah musik kaum udik padahal baru 1 menit sudah ngantuk mendengar komposisi Chopin dan pusing karena berusaha keras memahami Miles Davis, akhirnya diambil jalan tengah: Level 42 yang lebih banyak popnya ketimbang Jazznya supaya tetap berkelas tapi kepala tidak pening.

Kita tidak pernah membiarkan jiwa ini menilai secara bebas atas apa yang terlihat mata, terdengar telinga,atau  terkecap lidah, tapi lebih dikendalikan atribut-atribut yang membuat kita bahkan tidak mengenal diri sendiri dan seringkali justru menampik keindahan di sekeliling kita.

Mari kita “telanjangi” diri kita dan coba dengar betapa syahdunya Iis Dahlia, betapa megahnya Bang Haji dengan Sonetanya, betapa nikmatnya kopi angkringan mBah Mul. Pun tak perlu memaksakan menyukai mereka untuk dapat label proletar.

Posting Blog Menggunakan Windows Live Writer

Leave a comment

Pagi ini cukup santai karena tidak banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, aku iseng-iseng membuka situsnya microsoft, barangkali ada sesuatu yang menarik untuk diunduh secara gratis. Aku menemukan link Windows Live (http://home.live.com/), awalnya aku tertarik karena menawarkan fasilitas pengelolaan dan pengolahan foto, namun ternyata Windows Live terdiri dari beberapa program yaitu,

Masing-masing dapat diunduh satu persatu sesuai kebutuhan, atau langsung mengunduh installer Windows Live, dan dipilih sesuai kebutuhan pada saat proses instalasi.

Setelah instalasi selesai, aku mencoba satu persatu program yg berhasil terinstal, mulai dari Photo Galery dan Mail (yang ini masih belum berhasil) dan pada saat membuka Writer, bang! ternyata ini fasilitas posting blog. awalnya kupikir semacam program pengolah kata, mengingat namanya mirip salah satu program pengolah kata dalam OpenOffice.

image

Gambar di atas adalah printscreen antarmuka Windows Live Writer, sekilas memang mirip dengan MS Word namun jauh lebih sederhana, namun sebagai fasilitas penulisan blog jauh lebih lengkap dibandingkan yang ada pada situs-situs blogging seperti WordPress.

Bagi yang terbiasa mengetik dengan MS Words, mengetik artikel blog dengan Windows Live Writer akan terasa lebih menyenangkan. ada fasilitas editing standar, kemudian fasilitas insert :hyperlink, gambar, album foto, tabel, peta, tags dan video.

Map picture

(Peta Hasil Insert dengan bantuan fasilitas Live Search Maps dari Microsoft)

Post ini masih percobaan, pada saat mengetik pun masih belum tahu pasti apakah berhasil ter-posting atau tidak🙂

Bagi para blogger selamat mencoba, semoga berguna.

UGM Jazz 2008

3 Comments


Melanjutkan tradisinya, Universitas Gadjah Mada menggelar konser jazz untuk kali ke-10 yang bertajuk UGM-Mandiri Jazz 2008. Konser jazz yang disponsori oleh Bank Mandiri ini digelar pada hari Sabtu, 18 Oktober 2008. Sejak jauh hari, lima kelas konser ini telah terjual habis, walaupun ternyata pada hari pertunjukkan banyak tiket yang dijual oleh calo dengan harga lebih dari tiga kali lipat harga resminya.

Dibuka dengan penampilan Trisum yang langsung menghentak dengan nomor Cublek-cublek Suweng yang diaransemen ulang oleh Tohpati, Duo gitar Dewa Budjana dan Tohpati, Saat Syah pada suling, Indro Hardjodikoro pada bass dan drummer Yesaya (Eca) mampu memberikan sebuah penampilan yang memancing perhatian penonton yang memadati ruang auditorium Grha Sabha Pramana UGM.

Dewa Budjana

Baru pada nomor ke dua, Duo gitar Budjana dan Tohpati diperkuat oleh gitaris senior tanah air Donny Suhendra untuk melengkapi ke-Trisum-annya. Lagu October Rain ini tampaknya memberi Donny Suhendra porsi yang cukup sebagai perkenalannya di Trisum yang sebelumnya diisi oleh Balawan dan Henri Lamiri, dengan part solo yang berdurasi lebih dari dua menit dengan selamat-sentausa disikat habis oleh Donny.

Donny Suhendra yang ternyata pernah menjadi guru Tohpati mampu memberikan performa terbaiknya, walaupun tidak cukup untuk mengobati kekecewaan beberapa penonton yang menyangka Trisum masih diperkuat Balawan dan berharap dapat menyaksikan aksi akrobatik independent taping Balawan.

Budjana, Donny Suhendra, & Tohpati

Trisum: Budjana, Donny Suhendra, & Tohpati

Untuk pertama kalinya, dalam konser pada malam ini Trisum bermain dengan seorang vokalis. Rio Febrian pada malam ini dengan manis membawakan lagu Lukisan Pagi milik Tohpati. Selain vokal Rio, yang membuat lagu ini tambah syahdu adalah permainan sitar elektrik Budjana dan suling Saat, keduanya saling meningkahi memberi atmosfer yang ajaib.

Rio Febrian on Lukisan Pagi

Rio Febrian on Lukisan Pagi

Satu nomor yang tidak dapat diabaikan adalah sebuah karya jenius Dewa Budjana, Kromatiklagi¸ yang oleh Dony Suhendra diakui memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, menyajikan slogan Trisum “dialog tiga gitar” yang cukup apik, Budjana bagaimanapun tampak menguasai debat ketiga gitar tersebut.

Setelah Kromatiklagi, semua personel turun panggung kecuali Indro Hardjodikoro yang dengan sangat layak menampilkan permainan solo bass-nya, sejurus kemudian diikuti Eca sang drummer naik panggung setelah Indro menyelesaikan “lagunya”. Harus diakui pada konser Trisum kali ini, Eca mampu menarik perhatian penonton, bahkan lebih dari personel Trisum resmi sendiri. Dengan drum set yang tidak “standar”, Eca yang sejak awal tampil akrobatik, tampil memikat pada part solo yang memang disediakan untuknya. Dengan beat yang menghentak, terkadang terasa sangat funk, beralih menjadi sangat perkusif dengan perangkat drumnya bahkan sedikit “bercanda” dengan membuat beat menjadi sangat dangdut. Setiap bagian drum berhasil dipukul dengan ritme yang membuat satu ruangan terkesima, bahkan stand hi-hat dan hanya dengan kedua stiknya bisa dengan sangat ajaib menghasilkan bebunyian yang lebih dari cukup layak disebut sebagai musik.

Eca & Indro

Eca & Indro

Namun, penampilan drummer yang baru berusia 19 tahun ini tidak sepenuhnya sempurna. Entah terlalu enerjik atau karena baru bergabung dengan Trisum, permainannya terkadang kurang nge-blend dengan komposisi lagu secara keseluruhan. Berbeda dengan penampilan Sandy Winarta – yang tampil sangat tahu diri sebagai pemain pengiring- permainan Eca seringkali tampil terlalu mencolok.

Penampilan Trisum ditutup dengan Mahabarata-nya Tohpati. Tohpati, bagaimanapun sebagai pemain gitar ataupun musisi secara utuh harus diakui adalah gitaris terbaik Indonesia. Pada bagian interlude Mahabarata, Tohpati tampak seperti kelaparan dan ingin menghancurkan gedung pertunjukkan dibalik penampilan klimisnya. Gila.

Secara keseluruhan Trisum tampil membawakan Cublek-cublek Suweng, October Rain, Guitar in the Midnight, Lukisan Pagi, lagunya Rio febrian, Kromatiklagi, Lalu Lintas, La Fiesta karya Chick Corea, dan Mahabarata selama kurang lebih satu setengah jam.

Berbeda dengan Trisum yang tampil progresif, Idang Rasyidi & Friends pada sesi kedua tampil pada jalur mainstream. “Ini baru jazz” begitu kata Rieka Roeslan ketika baru naik panggung mengomentari musik yang dimainkan oleh Idang Rasyidi dan kawan-kawan itu. Tampaknya Idang memang telah sampai pada tahap apa yang disebut oleh Seno Gumira “selesai dengan ketertiban dalam bermusik”. Ya, salah satu yang ditunggu dalam sebuah jazz adalah improvisasi, bahkan bercanda dengan instrumen dan bunyi, tidak hanya dengan organnya, satu yang khas dari Idang adalah mulutnya yang selalu “berbunyi”, entah itu menyanyi, scat singing, bergumam, bahkan nyeletuk.

Idang Rasyidi & Friends

Idang Rasyidi & Friends

Rieka Roeslan, mantan personel The Groove tampil gemilang malam itu, kemampuan scat singing yang dilakukannya sungguh di atas rata-rata, sesuatu yang mungkin jarang dilakuannya ketika masih bermain dengan The Groove. Dengan kostum khasnya, Rieka selalu menari gemulai mengiringi musik yang dimankan oleh Idang Rasyidi & Friends. Tampaknya Rieka memang tahu apa arti sebuah pertunjukkan, interaksinya dengan penonton mampu menghidupkan suasana, mulai dari mengajak para penonton wanita pada lagu Wanita, sampai mengajak menari seluruh penonton di Grha Sabha Pramana.

Rieka Roeslan

Rieka Roeslan

Penampilan terakhir diisi oleh Glen Fredly yang disambut meriah ketika pertama kali naik panggung. Masih diiringi oleh Idang Rasyidi & Friends, secara mengejutkan Glen menyanyikan lagu Yogyakarta milik Kla Project dengan sentuhan jazzy. Lagu legendaris ini jelas saja mengundang seluruh penonton untuk ikut bernyanyi. Konser sendiri ditutup oleh penampilan Glen dengan lagu Come Together.

Glen Fredly on Yogyakarta

Glen Fredly on Yogyakarta

Tampaknya seluruh penampil pada malam itu tahu benar selera pasar, menyajikan nomor-nomor jazz standar dan klasik jelas bisa membuat penonton awan mengantuk, dan mungkin meninggalkan gedung lebih awal, tapi atraksi-atraksi menarik dan ajaib yang mereka lakukan mampu membuat penonton terpana.

Kesan pertama setelah menyaksikan konser musik ini adalah rasa bangga yang luar biasa melihat kemampuan musikalitas para musisi Indonesia yang di atas rata-rata baik dalam memainkan masing-masing instrumen maupun dalam mengaransemen lagu dengan sangat jenius.

Tips 01: Secangkir Kopi Nikmat Pengantar Ngelamun

7 Comments

Kurang lengkap rasanya bila blog dengan tagline “memandang dunia bersama secangkir kopi” tidak memberikan tips atau setidaknya berbagai pengalaman tentang bagaimana menyajikan secangkir kopi yang nikmat untuk menemani kita memandang dunia

untuk sebagian orang kopi adalah kopi, minuman berwarna gelap sedikit pahit, dan konon bisa membuat orang sulit tidur, hampir tidak ada bedanya antara kopi kalosi toraja, java, supremo, santos atau bahkan jamaican blue mountain sekalipun bila kita tidak memperlakukan kopi dengan penuh kasih sayang

tahukah anda (halah…) beberapa tips berikut ini membuat kopi yang kita seduh lebih terasa nikmat kira-kira begitu menurut mengalamanku bertahun2 menggauli kopi

kesegaran kopi

Musuh utama kopi adalah oksigen, kelembaban, dan cahaya. Simpan kopi di tempat kedap udara, apalagi bila kita membeli kopi yang sudah digiling (factory ground ). Setelah kemasan kopi dibuka biasanya aroma dan rasa kopi hanya akan bertahan maksimal 1 minggu, itupun dengan penyimpanan yang cukup rapi. Aroma dan rasa kopi memang bisa cepat sekali menghilang.

Pilihan terbaik untuk mendapatkan kopi yang selalu segar sebetulnya adalah membeli kopi yang masih berbentuk biji, di beberapa supermarket biasanya sudah tersedia, kebanyakan dengan merek dagang Excelso (ini produk dalam negri lho). Lalu bagaimana menggilingnya? mengingat mesin penggiling kopi cukup mahal dan langka, kita bisa menggunakan blender yang berukuran kecil, biasa digunakan untuk menghaluskan bumbu.

Terasa merepotkan? jika mengharapkan sesuatu yang istimewa memang tidak ada cara instan.

air

98% minuman kopi terdiri dari air, maka jelas sekali kualitas air ikut menentukan rasa kopi kita. Air yang berbau dan berasa (mengandung klorin misalnya) jelas mengganggu rasa dan aroma kopi kita. Gunakan air yang betul-betul bersih.

suhu

Sebagian besar orang beranggapan untuk menyeduh kopi harus menggunakan air yang mendidih, semakin panas air yang digunakan untuk menyeduh semakin nikmat kopi kita, seperti anggapan yang menyebutkan semakin gosong kopi disangrai (roasted) semakin nikmat pula kopinya.

Ternyata anggapan ini salah sodara-sodara. suhu air yang terlalu panas bisa merusak beberapa elemen pada kopi sehingga membuat kopi kita kehilangan sebagian rasanya (kecuali jika anda menganggap rasa kopi adalah pahit, selesai). Beberapa menyebutkan suhu optimal untuk menyeduh kopi adalah 96° – 98° C, pertanyaannya: apakah kita punya terometer di rumah? tak perlu serepot itu, biarkan dulu air yang sudah mendidih sekitar 5 menit baru seduh kopi kita.

dan ternyata air panas dari dispenser tepat setelah lampu merah (heat) mati adalah suhu air yang cukup pas.

Suhu air yang kurang panas pun – misalnya dari termos – kurang bisa “mengeluarkan” rasa kopi kita.

proporsi

Perbandingan yang tepat antara kopi dan air pun menentukan rasa kopi kita, tapi untuk yang satu ini cukup sulit untuk dijelaskan, karena masalah selera yang lebih menentukan. Sebagaian orang mungkin menyukai kopi yang kental (strong) dan sebagaian lagi menyukai kopi yang lebih ringan (light). Buatku, dua sendok teh kopi untuk satu cangkir (cangkir merah Nescafe) adalah proporsi yang pas.

Satu hal yang perlu dicatat, jenis kopi ternyata ikut menentukan. Beberapa jenis kopi misalnya kopi-kopi sumatra memiliki body yang bold, dan ada beberapa kopi yang cenderung light untuk takaran yang sama, misalnya kopi wamena (papua).

Jadi, sesuaikanlah selera anda, di sini pengalaman menyeduh kopi untuk jenis kopi yang berbeda sangat menentukan. Tidak ada ukuran yang tepat untuk setiap orang dalam hal rasa. Tapi yang penting buatku, crema kopinya bisa keluar.

mencicipi kopi

Apa sih bedanya kopi toraja dan mandheling, santos dan supremo, atau kenya aa dan ethiopia sidamo? hanya hidung dan lidah kita yang tahu

Hirup aroma kopi sebelum mencicipi, nikmati betul-betul aromanya. HIdung yang sehat tentunya akan lebih bisa menikmati aroma kopi, dan biasanya para perokok kurang bisa menikmati aroma ini (pengalaman membandingkan jaman masih merokok dan sekarang)

Sruput kopi perlahan-lahan, jangan langsung ditelan, biarkan air kopi memenempati mulut kita beberapa saat, kalo perlu sedikit dikumur, rasakan sensasinya di setiap bagian lidah. Rasa unik kopi paling kuat biasanya di lidah bagian tepi (pinggiran lidah kiri dan kanan).

Jangan pernah minum kopi dalam keadaan perut kita kosong. menikmati kopi setelah makan adalah salah satu hal paling menyenangkan. Menikmati kopi dengan penganan-penganan pun terkadang bisa memerkuat rasa kopi kita, bagaimana bisa? entahlah tapi begitulah pengalamannya. Makanan-makanan yang sedikit pedas bisa memberikan citrasa tersendiri. Tapi yang paling mantap adalah menikmati kopi dengan brownis. Gigit brownisnya, kunyah sebentar dan jangan dulu ditelan, dan minum kopi kita, biarkan meraka menari di dalam mulut kita, wuaaahhh…..

Satu lagi: kalau ingin merasakan bedanya setiap jenis kopi, jangan tambahkan gula. Pahit? ga juga, ada banyak kenikmatan yang tersembunyi, percayalah….

dan selanjutnya selamat menikamti……

Jangkrik

2 Comments

Selepas solat maghrib tiba-tiba muncul suatu perasaan rindu. Rindu yang begitu kuat. Rindu pada suatu ruang dan waktu yang entah di mana dan kapan. Kuingat-ingat, kurasakan, aku merindukan apa, merindukan siapa, atau merindukan peristiwa apa.

Peristiwa-peristiwa masa lalu kemudian berkelebat silih berganti di pikiranku, kemudian beralih ke mimpi-mimpi tentang masa depan. Ah sungguh melelahkan. Kemudian muncul perasaan enggan untuk melakukan apapun, bukan perasaan malas, karena pikiran terus berlari kian kemari, pertanyaan “apa yang harus kulakukan?” semakin membuatku lelah.

Di luar sana purnama – entah purnama kami yang ke-berapa?, kuputuskan menyeduh secangkir kopi saja, bubuk-bubuk kalosi toraja sisa gilingan tadi pagi ternyata masih cukup untuk satu cangkir. Ditemani satu kerat brownies, kopi malam ini terasa begitu nikmat.

Kunikmati kopi dan brownies ini di bangku kayu di pekarangan yang gelap, sambil melamun, satu gigitan brownies, diikuti satu sruput kopi, ah…..dan jangkrik yang sedari tadi bernyanyi (tapi baru kusadari) menyadarkanku: ternyata aku masih menyisakan diriku.

Terjawab sudah. Ternyata aku merindukan diriku sendiri, diriku dengan kesendirianku. Diriku dan cangkir-kopi-merahku dan puisi-puisiku. Diriku dan jangkrik-jangkrikku.

Sebetulnya aku tidak tahu persis, jangkrik yang mana saja yang bernyanyi. Aku tidak tahu persis, jangkrik dari generasi keberapa yang saat ini bernyanyi. Bertahun-tahun hidup dengan suara-suara mereka, tapi aku tidak mengenal satupun dari mereka. Tapi mereka telah mengenalkanku pada diriku sendiri.

Diriku yang ternyata bukanlah siapa-siapa, bukanlah apa-apa, tapi bukan ketiadaan, bukan kekosongan melainkan sebuah paradoks: keheningan yang bernyanyi, kegelapan dengan cahaya berwarna-warni dan diam yang menari, serta ruang dan waktu yang meluruh.

Jangkrik. Ya, jangkrik.

Berjalan menemui diriku sendiri bukanalah hal yang mudah. Bukanlah perjalanan di atas jalan tol yang lurus dan mulus. Lebih mirip labirin, tapi tidak bisa dikatakan labirin. Seringkali begitu gelap, tapi kadang menyilaukan. Terkadang langkahku pasti, tapi tiba-tiba kerikil masa lalu atau lubang masa depan yang terinjak dan membuatku terpeleset menghancurkan jalanku yang sedari awal kubangun dengan hati-hati. Bukanlah sebuah jalan yang bisa dipetakan dan dengan network analyst bisa dicari jalur terdekatnya atau watu tempuh tercepatnya. Dan tidak pernah ada jalan yang sama bahkan tujuan yang sama.

Adalah nyanyian-nyanyian jangkrik yang menuntunku, bukan satu jangkrik, tapi banyak. Dan masing-masing berkata “ikuti aku, inilah jalanmu”. Ah sampai di sini aku bingung, aku harus mengikuti yang mana. Kucoba mengikuti salah satu yang suaranya paling keras, tapi ternyata aku hanya jalan di tempatku berdiri. Kucoba mengikuti yang lain, yang iramanya paling merdu, ternyata aku hanya berjalan berputar, kembali dan terus kembali melewati jalan yang sama.

Dan akupun mengikuti semuanya, kubiarkan diriku mengikuti jangkrik yang ini, kubiarkan diriku mengikuti jangkrik yang itu, yang di sana, yang suaranya palng keras tapi jarang-jarang, yang suaranya lirih di ujung sana, yang suaranya pelan tapi dengan irama yang pasti, kuikuti jangkrik yang baru belajar bernyanyi pada saat yang bersamaan

Ya, kubiarkan “para aku” pergi mengikuti jangkrik-jangkrik itu, “aku-aku” menyebar ke seluruh penjuru ruang, terbang dan sedikit demi sedikit melebur dengan udara seperti parfum yang disemprotkan.

Kini tinggalah diriku sendiri di sini dalam keheningan yang bernyanyi, kegelapan dengan cahaya berwarna-warni dan diam yang menari, bukan di manapun dan tidak kapanpun.

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.