Jangkrik

April 28, 2008

Selepas solat maghrib tiba-tiba muncul suatu perasaan rindu. Rindu yang begitu kuat. Rindu pada suatu ruang dan waktu yang entah di mana dan kapan. Kuingat-ingat, kurasakan, aku merindukan apa, merindukan siapa, atau merindukan peristiwa apa.

Peristiwa-peristiwa masa lalu kemudian berkelebat silih berganti di pikiranku, kemudian beralih ke mimpi-mimpi tentang masa depan. Ah sungguh melelahkan. Kemudian muncul perasaan enggan untuk melakukan apapun, bukan perasaan malas, karena pikiran terus berlari kian kemari, pertanyaan “apa yang harus kulakukan?” semakin membuatku lelah.

Di luar sana purnama – entah purnama kami yang ke-berapa?, kuputuskan menyeduh secangkir kopi saja, bubuk-bubuk kalosi toraja sisa gilingan tadi pagi ternyata masih cukup untuk satu cangkir. Ditemani satu kerat brownies, kopi malam ini terasa begitu nikmat.

Kunikmati kopi dan brownies ini di bangku kayu di pekarangan yang gelap, sambil melamun, satu gigitan brownies, diikuti satu sruput kopi, ah…..dan jangkrik yang sedari tadi bernyanyi (tapi baru kusadari) menyadarkanku: ternyata aku masih menyisakan diriku.

Terjawab sudah. Ternyata aku merindukan diriku sendiri, diriku dengan kesendirianku. Diriku dan cangkir-kopi-merahku dan puisi-puisiku. Diriku dan jangkrik-jangkrikku.

Sebetulnya aku tidak tahu persis, jangkrik yang mana saja yang bernyanyi. Aku tidak tahu persis, jangkrik dari generasi keberapa yang saat ini bernyanyi. Bertahun-tahun hidup dengan suara-suara mereka, tapi aku tidak mengenal satupun dari mereka. Tapi mereka telah mengenalkanku pada diriku sendiri.

Diriku yang ternyata bukanlah siapa-siapa, bukanlah apa-apa, tapi bukan ketiadaan, bukan kekosongan melainkan sebuah paradoks: keheningan yang bernyanyi, kegelapan dengan cahaya berwarna-warni dan diam yang menari, serta ruang dan waktu yang meluruh.

Jangkrik. Ya, jangkrik.

Berjalan menemui diriku sendiri bukanalah hal yang mudah. Bukanlah perjalanan di atas jalan tol yang lurus dan mulus. Lebih mirip labirin, tapi tidak bisa dikatakan labirin. Seringkali begitu gelap, tapi kadang menyilaukan. Terkadang langkahku pasti, tapi tiba-tiba kerikil masa lalu atau lubang masa depan yang terinjak dan membuatku terpeleset menghancurkan jalanku yang sedari awal kubangun dengan hati-hati. Bukanlah sebuah jalan yang bisa dipetakan dan dengan network analyst bisa dicari jalur terdekatnya atau watu tempuh tercepatnya. Dan tidak pernah ada jalan yang sama bahkan tujuan yang sama.

Adalah nyanyian-nyanyian jangkrik yang menuntunku, bukan satu jangkrik, tapi banyak. Dan masing-masing berkata “ikuti aku, inilah jalanmu”. Ah sampai di sini aku bingung, aku harus mengikuti yang mana. Kucoba mengikuti salah satu yang suaranya paling keras, tapi ternyata aku hanya jalan di tempatku berdiri. Kucoba mengikuti yang lain, yang iramanya paling merdu, ternyata aku hanya berjalan berputar, kembali dan terus kembali melewati jalan yang sama.

Dan akupun mengikuti semuanya, kubiarkan diriku mengikuti jangkrik yang ini, kubiarkan diriku mengikuti jangkrik yang itu, yang di sana, yang suaranya palng keras tapi jarang-jarang, yang suaranya lirih di ujung sana, yang suaranya pelan tapi dengan irama yang pasti, kuikuti jangkrik yang baru belajar bernyanyi pada saat yang bersamaan

Ya, kubiarkan “para aku” pergi mengikuti jangkrik-jangkrik itu, “aku-aku” menyebar ke seluruh penjuru ruang, terbang dan sedikit demi sedikit melebur dengan udara seperti parfum yang disemprotkan.

Kini tinggalah diriku sendiri di sini dalam keheningan yang bernyanyi, kegelapan dengan cahaya berwarna-warni dan diam yang menari, bukan di manapun dan tidak kapanpun.