Satu waktu ketika menyaksikan berita di televisi mengenai kekisruhan yang terjadi pada saat pembagian daging kurban, seorang bapak yang ikut menonton berkata kepadaku: jadilah orang kaya, masih banyak orang yang membutuhkan sedekah.

Sesederhana itukah solusinya? Ini bukan kali pertama kita menyaksiakan peristiwa mengenaskan – kalau tidak menyedihkan – semacam itu; pembagian angpau lebaran dari seorang dermawan setempat yang isi amplopnya 20 ribu rupiah, pembagian zakat fitrah, bahkan tidak lama sebelum pembagian daging kurban adalah penjualan telepon seluler seharga seratus ribu rupiah. Kekisruhan ini tidak hanya mengakibatkan korban luka-luka bahkan sampai mengakibatkan beberapa nyawa melayang.

Apa yang kita saksikan adalah: ratusan orang bahkan mungkin mencapai seribu lebih berkumpul di suatu tempat dan dalam susana chaotic berebut apa yang dibagikan, tidak peduli pada orang-orang di sekelilingnya – yang juga ikut berebut, mendorong orang di depannya, menyikut orang di sampingnya, bahkan menginjak orang yang ada di bawahnya yang dengan sangat malangnya terjatuh. Tidak ada kepedulian di situ, yang penting si aku kebagian sedekah. Apa yang mereka lakukan terhadap di sekelilingnya memang tidak diniatkan untuk menyakiti atau berbuat jahat kepada orang lain, tetapi lebih karena dorongan untuk mendapatkan apa yang ingin mereka dapatkan.

Silahkan nilai aku tidak adil, tidak cukup empatik terhadap nasib mereka. Kalau kamu berada pada posisi dan kondisi mereka, kamu pun akan melakukan hal yang sama. Uang 20 ribu rupiah bagi mereka sangat berharga, sekantung kresek daging yang datang setahun sekali adalah lauk yang jarang mereka nikmati, telepon genggam seharga seratus ribu rupiah adalah kemewahan yang jarang bisa mereka peroleh, dan kamu sudah mendapatkan semuanya, jadi mudah saja menilai. Silahkan, ini akan menjadi perdebatan panjang lainnya.

Tapi benarkah hal itu hanya terjadi pada mereka yang “miskin”? Baik kita lihat: para pejabat korup, para pengusaha dengan deposito milyaran, politisi, bahkan sampai pegawai kelas menengah pun melakukan hal yang kira-kira senada dengan mereka yang mengantri sekantong kresek daging kurban. Apapun akan mereka lakukan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan: memanipulasi hukum untuk mendapatkan uang trilyunan rupiah, menyuap pemberi tender agar mendapatkan proyek, melakukan kampanye tidak bermoral untuk menyingkirkan lawan politik, atau sekedar menjilat atasan dan mengkhianati rekan kerja untuk memperoleh posisi yang lebih tinggi di kantor tidak jauh berbeda bahkan lebih buruk dari mendorong, menyikut, dan menginjak orang-orang di sekelilingnya. Dan semuanya dilakukan untuk mendapatkan apa yang ingin mereka dapatkan.

Jadi, masihkah sedekah adalah solusinya?

NB: setelah mendengar ceramah pak ustadz, Surip (gantinya Sukab) mau menyedekahkan semua tabungannya agar dapat ganti sepuluh kali lipatnya.

Advertisement