sebuah catatan kecil tentang kegelisahan para “seniman”

Ketika kamera obscura – yang menjadi cikal bakal kamera megapiksel – pertama kali diciptakan dan hasilnya dipublikasikan, kalangan pelukis geram karena menganggap semua orang dapat melukis mendekati aslinya tanpa perlu memiliki keahlian melukis seperti mereka.

Ketika fotografi sudah diterima sebagai karya seni, lagi-lagi muncul kontroversi yang menggelikan: fotografer “tua” dan fanatik mencak-mencak melihat perangkat lunak Photoshop yang membuat sebuah foto yang dihasilkan dengan cara yang jauh dari “professional”, menjadi “sangat professional”.

Di dalam kuburnya, Gerardus Mercator mungkin akan curhat pada malaikat penjaga kubur, melihat para kartografer saat ini yang dimanjakan oleh komputer begitu sembarangan dalam menentukan simbol-simbol peta dan dan cukup malas mengatur tata letaknya; berharap semuanya dilakukan otomatis oleh komputer.

Beberapa tahun yang lalu ada sekelompok seniman yang menggelar pameran dengan maksud memberikan perlawanan terhadap karya seni yang dibuat dengan “cukup meng-klik tetikus saja”.

Roy Suryo menganggap Blog sebagai “sampah” web, karena semua orang menjadi punya media untuk mempublikasikan dirinya sendiri tanpa melewati serangkaian proses editing yang cukup ketat sebagimana “media sesungguhnya”.

Entah apa perasaan para aktor-aktris anggota sanggar-sanggar seni terkemuka menyaksikan wajah-wajah kenes yang hanya bisa membentak, melotot, menampar, dan menangis (inipun dengan bantuan obat tetes mata) yang mondar mandir di layar kaca setiap hari dalam sebuah “karya seni” yang disebut Sinema Elektronik dengan honor puluhan juta rupiah dari orang semisal Tiada Rotan Ram Punjabi, sementara mereka sendiri harus mencari uang untuk membiayai pementasan teaternya dan bukannya dibayar.

David Bayu Danangjaya mencaci maki Kangen Band dan menyatakan “Tega bener. Mau dikemanain musik Indonesia. ‘Kangen Band’ please deh jangan band-band kayak gitu lagi yang dikeluarin..“. Karena dianggap merusak musik Indonesia, yang nyata-nyata Kangen Band laris manis di pasaran.

Inilah revolusi teknologi (dan tentunya dengan sentuhan pemasaran) yang mau tak mau mempengaruhi dunia seni. Setiap orang bisa menjadi sastrawan dengan menulis puisi di blog tanpa kesulitan mempublikasikannya dan – tidak seperti sepuluh tahun yang lalu – harus diseleksi oleh sastrawan kawakan untuk sekedar dimuat di surat kabar. Setiap orang bisa menjadi wartawan dengan melakukan hal yang sama dengan blog tanpa perlu kaidah-kaidah jurnalistik. Setiap orang bisa menjadi pelukis dengan menggunakan Corel Draw atau Photoshop, yang bahkan mungkin Andy Warhol pun akan dibuat ternganga melihat perkembangan kuantitatifnya. Setiap orang bisa menjadi sutradara dan aktor dengan hanya menggunakan kamera video ponsel dan mempublikasikannya di Youtube. Kenyataan bahwa banyak band bermunculan dengan kemampuan bermusik seadanya – dan masih keliru membedakan antara kunci dan kord – tak lepas dari peran teknologi yang mampu memproduksi alat musik secara masal dan menjualnya dengan harga murah, lebih menyakitkan (telinga) lagi mengkolaborasikannya dengan alat-alat musik tradisional secara serampangan sudah membuat mereka merasa menjadi “musisi kontemporer”.

Akhir kata, setiap orang bisa penjadi fotografer dengan mampu membeli kamera-kamera terkini dan segala kecanggihan yang ditawarkannya, dan memajang foto profil mereka yang sedang menenteng atau seolah-olah membidikkan kamera dengan lensa sepanjang dan sebesar termos milik nenek saya di Facebook………. dan para “seniman miskin” hanya akan termenung di sudut jaman.

NB: jangankan melakukan editing bombastis pada hasil fotonya, Surip (masih gantinya Sukab) masih saja mondar mandir ke toko kamera untuk kamera sekali pakainya (maksudnya, sekali dipakai langsung direparasi).