Inget jaman dulu waktu masih esempe-esema, waktu masih seneng-senengnya nonton MTV, ada satu program yang bertitel Alternative Nation yang punya slogan “We Promise, No Boybands”. Mereka yang tergabung dalam bangsa alternatif ini tentunya merasa jijik dengan yang namanya boyband yang mereka anggap banci, kenes, genit, dan kadang cengeng. Tentu diri ini mengamininya.
Hingga satu hari, seorang penyiar radio sebelum memutarkan “Everyday I Love you” dari Boyzone berkomentar “lagu ini menyentuh banget, ga usah deh sok-sokan anti boyband, coba dengerin aja” diiringi tawa renyah. Tentu diri ini – sang pemuja Kurt Cobain – tersentil, jadi dengan malu-malu kudengarkan pula lagu ini; memang enak.
Apa yang kusadari di sini adalah; kita terlalu sibuk melabeli diri sebagai ini dan itu, menyaring apa yang kita konsumsi karena kita adalah ini dan itu. Bahkan bila apa yang kita tolak terlanjur tertonton, terdengar hati berusaha menampik dan mulut berucap mencaci. Atau sebaliknya, karena kita adalah ini dan itu, maka kita harus mendengar ini, menonton itu, meminum ini, memakan itu.
Karena kita adalah kaum tepelajar musiknya harus musik klasik atau jazz, sebab musik melayu adalah musik kaum udik padahal baru 1 menit sudah ngantuk mendengar komposisi Chopin dan pusing karena berusaha keras memahami Miles Davis, akhirnya diambil jalan tengah: Level 42 yang lebih banyak popnya ketimbang Jazznya supaya tetap berkelas tapi kepala tidak pening.
Kita tidak pernah membiarkan jiwa ini menilai secara bebas atas apa yang terlihat mata, terdengar telinga,atau terkecap lidah, tapi lebih dikendalikan atribut-atribut yang membuat kita bahkan tidak mengenal diri sendiri dan seringkali justru menampik keindahan di sekeliling kita.
Mari kita “telanjangi” diri kita dan coba dengar betapa syahdunya Iis Dahlia, betapa megahnya Bang Haji dengan Sonetanya, betapa nikmatnya kopi angkringan mBah Mul. Pun tak perlu memaksakan menyukai mereka untuk dapat label proletar.





Jul 20, 2010 @ 07:49:34
ya betul itu, terus?
Jul 20, 2010 @ 07:56:43
terus apanya?