Di mana kesunyian usai, mulailah pasar,
sedang di mana pasar bermula,
mulailah aum para aktor agung dan dengung lalat-lalat berbisa
(Nietzsche dalam Zarathustra)
Suatu kali ketika sedang melakukan kunjungan di sebuah kota di Kalimantan, seorang teman geograf bertanya kepada salah seorang aparat pemerintah setempat yang manjadi pemandunya, apa yang menjadi landmark kota ini, jawabnya adalah “kami hanya punya satu mall mas, tapi itupun kecil tidak seperti di Jogja” dengan maksud sedikit merendah.
Ya, mall. Saat ini mall telah menjadi landmark suatu kota menggantikan segala sesuatu yang dulu menjadi menjadi kebanggaan, entah itu tugu, taman, mesjid, gereja, benteng atau apapun yang menjadi bagian dari sejarah kota tersebut atau sesuatu yang membuat kota tersebut khas dari kota lainnya.
Sudah menjadi kebiasaan bagi kami para geograf untuk mendatangi landmark suatu daerah sebagai bagian dari keragaman dan kekayaan nusantara. Sungguh mengherankan memang jawaban tentang mall tersebut bisa dikatakan landmark, mengingat di manapun mall sebagai produk kapitalisme masa kini tetaplah sama. Tidak ada yang bisa dikatakan khas dari suatu mall.
Mall sejatinya merupakan suatu pasar. Pasar dalam definisi kuno – sebagaimana ditulis dalam buku-buku teks sekolah – adalah tempat orang berjual beli, suatu aktifitas ekonomi. Bagaimana suatu tempat perekonomian bisa dikatakan sebagai landmark? Dalam masyarakat kapitalisme, kesejahteraan memang menjadi sebuah kebanggaan, sebuah pertanda adanya diri. Maka bisa dimaklumi, bila hadirnya mall di suatu kota pun telah menjadi landmark yang secara tidak langsung ingin mengatakan “kami yang tinggal di sini telah sejahtera” kepada dunia.
Tapi benarkah mereka telah sejahtera? Ataukah kita hanya pura-pura sejahtera?
Di mana pasar bermula, mulailah aum para aktor agung dan dengung lalat-lalat berbisa demikian ditulis Nietzsche pada tahun 1883, lebih dari satu abad yang lalu. Lalu siapakah para “aktor agung” yang mengaum? Siapa pula “lalat-lalat berbisa” yang hanya bisa berdengung?
Mereka yang mengaum adalah mereka yang dengan gencarnya berteriak “inilah kemakmuran! Dan kita yang dipaksa untuk “makmur” hanya bisa berdengung bergumam, “iya, sekarang aku telah makmur” dengan menjadi bagian dari pasar yang telah dimulai ini.
Jangan membayangkan pasar yang becek, pedagang dan pembeli yang saling berteriak tawar menawar dan berdesak-desakan ditingkahi aroma sedap dan tidak sedap dari berbagai sumber. Entah itu sayuran busuk yang terinjak-injak, atau jeroan-hewan-hewan potong, bahkan dari keringat dan ketiak penjual dan pembeli.
Bukan, mall adalah suatu pasar di mana semua orang mematut diri – bahakan sekedar untuk membeli terasi -, semua orang ingin “melihat” dan “dilihat”. Tidak ada sayuran busuk berceceran, yang ada adalah sayuran yang pura-pura segar dalam pendingin. Tidak ada tawar menawar, semua sudah terpatok harganya, jika suka silahkan ambil, jika tidak mampu silahkan melihat-lihat saja. Dan bukan hanya barang-barang seperti yang di jual di supermarket, ada bioskop, ada restoran cepat saji dan lama saji, ada warung kopi dengan harga secangkirnya bisa membayar puluhan gelas kopi di angkringan Pak Mul, ada toko buku, ada panti pijat “modern” (karena menggunakan alat elekronik) dan ada apapun sejauh bisa dijual.
Para “aktor agung” mengaumkan: seperti ini seharusnya hidup; baju inilah yang seharusnya kamu pakai; parfum inilah bukan bau keringatmu yang seharusnya mewangikanmu; inilah makananmu sebagai orang yang telah makmur; dan di sinilah seharusnya kamu berada, di sinilah kamu menjadi ada.
Dan ‘lalat-lalat berbisa’ berdengung saling meracuni satu sama lain.
Terbanglah, sahabat, ke dalam kesunyianmu!
kulihat engkau jadi tuli oleh raungan para manusia agung
dan melepuh oleh sengat mereka yang kerdil
[Karanggayam, 15 April 2008]
Posted by g173cs