UGM Jazz 2008

October 21, 2008


Melanjutkan tradisinya, Universitas Gadjah Mada menggelar konser jazz untuk kali ke-10 yang bertajuk UGM-Mandiri Jazz 2008. Konser jazz yang disponsori oleh Bank Mandiri ini digelar pada hari Sabtu, 18 Oktober 2008. Sejak jauh hari, lima kelas konser ini telah terjual habis, walaupun ternyata pada hari pertunjukkan banyak tiket yang dijual oleh calo dengan harga lebih dari tiga kali lipat harga resminya.

Dibuka dengan penampilan Trisum yang langsung menghentak dengan nomor Cublek-cublek Suweng yang diaransemen ulang oleh Tohpati, Duo gitar Dewa Budjana dan Tohpati, Saat Syah pada suling, Indro Hardjodikoro pada bass dan drummer Yesaya (Eca) mampu memberikan sebuah penampilan yang memancing perhatian penonton yang memadati ruang auditorium Grha Sabha Pramana UGM.

Dewa Budjana

Baru pada nomor ke dua, Duo gitar Budjana dan Tohpati diperkuat oleh gitaris senior tanah air Donny Suhendra untuk melengkapi ke-Trisum-annya. Lagu October Rain ini tampaknya memberi Donny Suhendra porsi yang cukup sebagai perkenalannya di Trisum yang sebelumnya diisi oleh Balawan dan Henri Lamiri, dengan part solo yang berdurasi lebih dari dua menit dengan selamat-sentausa disikat habis oleh Donny.

Donny Suhendra yang ternyata pernah menjadi guru Tohpati mampu memberikan performa terbaiknya, walaupun tidak cukup untuk mengobati kekecewaan beberapa penonton yang menyangka Trisum masih diperkuat Balawan dan berharap dapat menyaksikan aksi akrobatik independent taping Balawan.

Budjana, Donny Suhendra, & Tohpati

Trisum: Budjana, Donny Suhendra, & Tohpati

Untuk pertama kalinya, dalam konser pada malam ini Trisum bermain dengan seorang vokalis. Rio Febrian pada malam ini dengan manis membawakan lagu Lukisan Pagi milik Tohpati. Selain vokal Rio, yang membuat lagu ini tambah syahdu adalah permainan sitar elektrik Budjana dan suling Saat, keduanya saling meningkahi memberi atmosfer yang ajaib.

Rio Febrian on Lukisan Pagi

Rio Febrian on Lukisan Pagi

Satu nomor yang tidak dapat diabaikan adalah sebuah karya jenius Dewa Budjana, KromatiklagiΒΈ yang oleh Dony Suhendra diakui memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, menyajikan slogan Trisum “dialog tiga gitar” yang cukup apik, Budjana bagaimanapun tampak menguasai debat ketiga gitar tersebut.

Setelah Kromatiklagi, semua personel turun panggung kecuali Indro Hardjodikoro yang dengan sangat layak menampilkan permainan solo bass-nya, sejurus kemudian diikuti Eca sang drummer naik panggung setelah Indro menyelesaikan “lagunya”. Harus diakui pada konser Trisum kali ini, Eca mampu menarik perhatian penonton, bahkan lebih dari personel Trisum resmi sendiri. Dengan drum set yang tidak “standar”, Eca yang sejak awal tampil akrobatik, tampil memikat pada part solo yang memang disediakan untuknya. Dengan beat yang menghentak, terkadang terasa sangat funk, beralih menjadi sangat perkusif dengan perangkat drumnya bahkan sedikit “bercanda” dengan membuat beat menjadi sangat dangdut. Setiap bagian drum berhasil dipukul dengan ritme yang membuat satu ruangan terkesima, bahkan stand hi-hat dan hanya dengan kedua stiknya bisa dengan sangat ajaib menghasilkan bebunyian yang lebih dari cukup layak disebut sebagai musik.

Eca & Indro

Eca & Indro

Namun, penampilan drummer yang baru berusia 19 tahun ini tidak sepenuhnya sempurna. Entah terlalu enerjik atau karena baru bergabung dengan Trisum, permainannya terkadang kurang nge-blend dengan komposisi lagu secara keseluruhan. Berbeda dengan penampilan Sandy Winarta – yang tampil sangat tahu diri sebagai pemain pengiring- permainan Eca seringkali tampil terlalu mencolok.

Penampilan Trisum ditutup dengan Mahabarata-nya Tohpati. Tohpati, bagaimanapun sebagai pemain gitar ataupun musisi secara utuh harus diakui adalah gitaris terbaik Indonesia. Pada bagian interlude Mahabarata, Tohpati tampak seperti kelaparan dan ingin menghancurkan gedung pertunjukkan dibalik penampilan klimisnya. Gila.

Secara keseluruhan Trisum tampil membawakan Cublek-cublek Suweng, October Rain, Guitar in the Midnight, Lukisan Pagi, lagunya Rio febrian, Kromatiklagi, Lalu Lintas, La Fiesta karya Chick Corea, dan Mahabarata selama kurang lebih satu setengah jam.

Berbeda dengan Trisum yang tampil progresif, Idang Rasyidi & Friends pada sesi kedua tampil pada jalur mainstream. “Ini baru jazz” begitu kata Rieka Roeslan ketika baru naik panggung mengomentari musik yang dimainkan oleh Idang Rasyidi dan kawan-kawan itu. Tampaknya Idang memang telah sampai pada tahap apa yang disebut oleh Seno Gumira “selesai dengan ketertiban dalam bermusik”. Ya, salah satu yang ditunggu dalam sebuah jazz adalah improvisasi, bahkan bercanda dengan instrumen dan bunyi, tidak hanya dengan organnya, satu yang khas dari Idang adalah mulutnya yang selalu “berbunyi”, entah itu menyanyi, scat singing, bergumam, bahkan nyeletuk.

Idang Rasyidi & Friends

Idang Rasyidi & Friends

Rieka Roeslan, mantan personel The Groove tampil gemilang malam itu, kemampuan scat singing yang dilakukannya sungguh di atas rata-rata, sesuatu yang mungkin jarang dilakuannya ketika masih bermain dengan The Groove. Dengan kostum khasnya, Rieka selalu menari gemulai mengiringi musik yang dimankan oleh Idang Rasyidi & Friends. Tampaknya Rieka memang tahu apa arti sebuah pertunjukkan, interaksinya dengan penonton mampu menghidupkan suasana, mulai dari mengajak para penonton wanita pada lagu Wanita, sampai mengajak menari seluruh penonton di Grha Sabha Pramana.

Rieka Roeslan

Rieka Roeslan

Penampilan terakhir diisi oleh Glen Fredly yang disambut meriah ketika pertama kali naik panggung. Masih diiringi oleh Idang Rasyidi & Friends, secara mengejutkan Glen menyanyikan lagu Yogyakarta milik Kla Project dengan sentuhan jazzy. Lagu legendaris ini jelas saja mengundang seluruh penonton untuk ikut bernyanyi. Konser sendiri ditutup oleh penampilan Glen dengan lagu Come Together.

Glen Fredly on Yogyakarta

Glen Fredly on Yogyakarta

Tampaknya seluruh penampil pada malam itu tahu benar selera pasar, menyajikan nomor-nomor jazz standar dan klasik jelas bisa membuat penonton awan mengantuk, dan mungkin meninggalkan gedung lebih awal, tapi atraksi-atraksi menarik dan ajaib yang mereka lakukan mampu membuat penonton terpana.

Kesan pertama setelah menyaksikan konser musik ini adalah rasa bangga yang luar biasa melihat kemampuan musikalitas para musisi Indonesia yang di atas rata-rata baik dalam memainkan masing-masing instrumen maupun dalam mengaransemen lagu dengan sangat jenius.